EDUCATION : PROBLEM STRESS SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN PESERTA DIDIK SD-MAK

 





                  Oleh : Ersa Camelia 2119089

                           

                           KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. yang telah memberikan hidayah, rakhmat dan inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas dengan tepat waktu. Tentunya atas segala pertolongan-Nya. 

Shalawat serta Salam tidak lupa kami sanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang kami nantikan syafaatnya kelak di yaumul kiamah amin. Rasa syukur dan terima kasih kami haturkan kepada semua anggota kelompok ini yang telah menyisihkan waktunya untuk bekerjasama dalam pembuatan makalah ini yang berjudul Problem stress sekolah dalam pengembangan peserta didik SD-MAK dengan tepat waktu. Yang disusun guna memenuhi tugas. selain itu kami sebagai penulis mengharap pembahasan yang ada di makalah ini semoga bisa  bermanfaat bagi para pembacanya. 

Kami menyadari bahwasannya di dalam makalah ini banyak  kekurangan baik dari segi materi dan pengetikan. Maka dari itu kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca gunu untuk menyempurnakan makalah ini. 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang 

Sekolah mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan dan perkembangan peserta didik. sekolah ternyata juga dapat menjadi sumber masalah, yang pada gilirannya memicu terjadinya stres di kalangan peserta didik. Sekolah menjadi sumber utama bagi anak selain dalam keluarga. Hal ini disebabakan waktu anak lebih bnayak dihabiskan di sekolah. Mereka dihadapkan pada pekerjaan rumah yang banyak, perubahan kurikulum yang berlangsung dengan cepat, batas waktu tugas dan ujian, kecemasan dan kebingungan dalam menentukan pilihan karier dan program pendidikan lanjutan, membagi waktu untuk mengerjakan PR, olahraga, hobi, dan kehidupan sosial. Tidak jarang, mereka juga harus berhadapan dengan situasi konflik dengan orang tua, teman-teman, dan saudara-saudara, tuntutan untuk mengatasi suasana hati tak dapat diramalkan, perhatian tentang penampilan, percekcokan dengan kelompok sebaya, termasuk menangani percintaan dan dorongan seksual. Masalah keuangan, seperti halnya dengan isu-isu tentang alkohol dan obat-obatan juga merupakan sumber kecemasan dikalangan remaja. Bahkan belakangan ini kekerasan didalam dan disekitar sekolah telah menjadi suatu ketakutan baru untuk menghantui anak remaja. 

Rumusan Masalah 

1. Bagaimana problem stess sekolah dalam perkembangan peserta didik?

2. Bagaimana menjadi sumber problem stres sekolah?

3. Bagaimana dampak yang terjadi dari problem stres sekolah?

4. Bagaimana upaya mengatasi dampak problem stress sekolah yang dialami peserta didik?


Tujuan Penulisan 

1. Mengetahui pengertian problem stess sekolah dalam perkembangan peserta didik?

2. Mengetahui yang menjadi sumber problem stres sekolah?

3. Mengetahui dampak yang terjadi dari problem stres sekolah?

4. Mengetahui upaya mengatasi dampak problem stress sekolah yang dialami peserta didik?


BAB II

PEMBAHASAN


Pengertian problem stre sekolah dalam perkembangan peserta didik

Stres sekolah adalah kondisi stres atau perasaan tidak nyaman yang dialami oleh siswa akibat adanya tuntutan sekolah dan perasaan yang dinilai menekan, sehingga memicu terjadinya ketegangan fisik, psikologis, dan perubahan tingkah laku, serta dapat mempengaruhi prestasi belajar mereka. Sekolah dipandang dapat memenuhi beberapa kebutuhan peserta didik dan menentukan kualitas kehidupan mereka di masa depan. Akan tetapi di saat yang sama, sekolah ternyata juga dapat menjadi sumber masalah, yang pada gilirannya memicu terjadinya setres di kalangan peserta didik. Hal ini agaknya di mengerti, sebab anak banyak menghabiskan waktunya di sekolah. Di sekolah anak merupakan anggota dari suatu masyarakat kecil di mana terdapat tugas-tugas yang harus diselesaikan, orang-orang yang perlu dikenal dan mengenal diri mereka, serta peraturan yang menjelaskan dan membatasi perilaku, perasaan dan sikap mereka.

 Stress biasanya muncul atau terlihat padasituasi serta keadaan yang kompleks, dimana menurut suatu individu anak, dan muncul situasi-situasi yang tidak jelas. Jika dilihat dari dari konteks akademik, stress muncul ketika terlalu banyak tuntutan oleh pendidik yang tidak dapat dipahami dan dimengerti anak. Karena anak cenderung lebih suka melakukan apa yang diinginkannya tanpa memikirkan orang lain. Namun perlu dipahami bahwa stress sekolah tidak sepenuhnya bermakna negative, melainakan juga bermakna positif bagi remaja, dalam artian dapat sebagai tantangan untuk mengatasinya. Stress yang bermakna positif ini tidak membahayakan, malah sebaliknya diperlukan untuk meningkatkan kualitas diri dan perstasi belajar. Dampak negative atau positf dari fenomena sekolah ini, tergantung pada derajat stress yang mereka alami. Apabila stress sekolah yang dialami remaja berada pada taraf yang tinggi atau sangat serius, maka kemungkinan akan membawa dampak negative bagi perkembangannya. Sebaliknya, apabila stress sekolah yang dialami siswa berada pada taraf moderat, maka dapat berdampak positif. Tinggi,moderat atau rendahnya derajat stress yang dialami oleh remaja akibat berbagai tuntutan sekolah, sangat bergantung pada nilai kognitif mereka, yaitu proses mental yang berlangsung terus menerus untuk menginterpretasikan bebagai situasi dalam interaksinya dengan individu. Siswa yang menilai tuntutan sekolah selagi hal yang sangat menekan, akan menunjukkan adanya derajat stress yang tinggi. Siswa yang menilai tuntutan sekolah itu sebagai kondisi yang tidak membahayakan, akan menunjukkan derat stress yang rendah. Tetapi, apabila siswa menilai tuntutan sekolah sebagai tantangan untuk dapat meningkatkan kualitas dirinya, akan menunjukkan derajat stress yang moderat. Agar siswa dapat menyikapi stress sekolah yang positf, sekolah dituntut untuk dapat merancang dan melaksanakan program-program intervensi dan pelatihan stress pada siswa.

Masa-masa sekolah menegah di satu sisi merupakan suatu pengalamn yang sangat berharga bagi anak remaja, tetapi di sisi lain mereka dihadapkan pada banyak tuntutan dan perubahan cepat yang membuat mereka mengalami masa-masa yang penuh stress. Mereka dihadapkan pada pekerjaan rumah yang banyak, perubahan kurikulum yang berlangsung dengan cepat, bataswaktu tugas dan ujian, kecemasan dan kebingungan dalam menentukan pilihan karier dan program pendidikan lanjutan dalam mentukan pilihan karier dan program pendidikan lanjutan, membagi waktu untuk mengerjakan PR, olahraga, hobi, dan kehidupan social. Tidak jarang mereka juga harus berhadapan dengan situasi konflik dengan orang tua, teman-teman, dan saudara-saudara; tuntutan untuk mengatasi suasana hati tidak dapat diramalkan, perhatian tentang penampilan, percekcokan dengan teman sebaya, termasuk menangani percintaan dan dorongan seksual. Masalah keuangan, seperti halnya dengan isu-isu tentang alcohol. Bahkan belakangan ini kekerasan di dalam dan sekitar sekolah telah menjadi suatu ketakutan baru yang menghantui anak remaja. Lebih dari semua tuntutan tersebut, mereka juga harus berhadapan dengan perubahan fisik dan emosional yang cepat dan perubahan emosional.

Fenomena stress sekolah yang dirasakan oleh siswa ini telah banyak disadari dan menjadi wilayah perhatian yang luas di kalangan ilmuan, peneliti, pendidik, dan penganbil kebijakan (pemerintah) di berbagai nrgara. Kesadaran bahwa sekolah menjadi sumber stress di kalangan siswa, agaknya juga terjadi di Indonesia. Kesadaran ini, di antara terlihat dari ungkapan Abdul Malik Fadjar, Menteri Pendidikan Nasional cabinet Gotong Royong, yang menyatakan, lembaga pendidikan atau sekolah harus memiliki konsep belajar yang menyenangkan, agar dapat mencerdaskan siswa dan tidak membuatnya stress (Kompas, 2001). Pernyataan Abdul Malik Fadjar tersebut, secara tidak langsung dapat diraskaan sebagai cerminan kesadaran tokoh pendidikan sekaligus pemerintah terhadap fenomena stress yang dialami oleh siswa di sekolah.


Sumber problem stres sekolah

Melihat  dari  definisi  jelas  bahwa sumber  stres  sekolah  berasal  dari berbagai  tuntutan  sekolah. Sekolah merupakan  sebuah  sistem  sosial (Social  System) dengan  struktur organiasi  yang  kompleks. Bahkan, Arend secara tegas mengatakan bahwa sekolah  dalam  banyak  hal  memiliki kesamaan  dengan organisasi-organiasasi  yang  ada  dalam masyarakat. Sebagai sebuah organisasi sosial yang kompleks, sekolah memiliki sejumlah norma,  nila, peraturan,  dan  tuntutan yang  harus  dipenuhi  oleh  para anggotanya,  termasuk  oleh  siswa. 

Sistem  norma,  nilai,  peraturan  dan tuntutan  sekolah tersebut  mempunyai dampak  yang  besar  terhadap penyesuaian  akademik  dan  sosial siswa. Ketidakmampuan  siswa menyesuaiak  diri  dengan  berbagai tuntutan sekolah tersebut akan memicu terjadinya stres. Dengan demikian  dapat  dipahami bahwa  sters yang  dialami oleh  siswa bersumber  dari  berbagai  tuntutan sekolah  (School  Demands). Desmita mengidentifikasi  adanya  empat tuntutan  sekolah  yang  dapat  menjadi sumber stres bagi siswa, yaitu physical demands, task demands, role demands, dan interpersonal demands. 

Physical Demands (tuntutan fisik) 

Physical  Demands  adalah  stres siswa  yang  bersumber  dari lingkungan fisik sekolah. Dimensi-dimensi  dari  lingkungan  fisik sekolah  yang  dapat  menyebabkan terjadinya stres siswa ini meliputi : keadaan  iklim  ruangan  kelas, temperatur  yang  tinggi, pencahayaan  dan  penerangan, perlengkapan  atau sarana/prasarana  penunjang pendidikan  atua  daftar  pelajaran, kebersihan dan kesehatan sekolah, keamanan  dan  penjagaan  sekolah dan sebagainya. 

Task Demands ( tuntutan tugas) 

Tuntutan tugas dalam konsep stres sekolah ini dapat diartikan sebagai tugas-tugas  pelajaran  (Academic work)  yang  harus dikerjakan  atau dihadapi  oleh  peserta  didik  yang dapat  menimbulkan  perasaan tertekanatau  stres.  Aspek-aspek dari tuntutan tugas  meliputi tugas-tugas  yang  dikerjakan  di  sekolah (Class Work) dan di rumah (School work/Home  Work),  mengikuti pelajaran,  memenuhi  tuntutan kuruikulum,  menghadapi  ulangan atau  ujian,  mematuhi  disiplin sekolah,  penilaian, dan  mengikuti berbagai kegiatan ekstrakulikuler. Tugas-tugas  pelajaran  merupakan aktivitas  umum  yang  harus dilakukan  oleh  siswa  sekolah  di hampir  semua  negara,  meskipun dengan  frekuensi  dan  porsi penggunaan  waktu  yang  berbeda-beda  remaja  yang  asia  timur, seperti  Jepang,  Korea  dan  Cina menghabiskan  lebih  banyak  porsi waktu  mereka untuk  mengerjakan tugas-tugas  sekolah  dan  sangat sedikit  waktu  yang  mereka gunakan  untuk  bersenang-senang, dibandingkan  remaja  di  Amerika dan  Eropa  (Fulligni&Stevenson, 1995,  Leone&Richard,  1989, Alsaker&Flammer, 1999).

Role Demands ( tuntutan Peran) 

Dimensi  ketiga  dari  stressor  di sekoolah  adalah  berhubungan dengan  peran  yang  dipikul  oleh siswa.  Sebagai  sebuah  organisasi, sekolah  memiliki  struktur organisasi  yang  terdiri  dari beberapa  posisi  yang  ditempati oleh  guru,  karyawan,  penjaga sekolah,  dan  sebagai  siswa. Semoga  anggota  organisasi sekolah  diharapkan  memenuhi kewajiban-kewajiban  yang  telah ditetapkan sesuai dengan posisinya masing-masing. Apabila seseorang menduduki suatu  posisi, maka hal ini  secara  otomatis menjadi  suatu peran.  Posisi  tidak  akan  menjadi suatu peran, kecuali bila seseorang menduduki  posisi  yang dirumuskan  menurut  harapan-harapan anggota lain dan individu itu sendiri.

Interpersonal Demands  (tuntutan personal ) 

Dimensi yang keempat adalah tuntutan  interpersonal.  Di lingkungan  sekolah,  siswa  tidak hanya  dituntut  untuk  dapat mencapai  prestasi  akademis  yang tinggi,  melainkan  sekaligus  harus mampu  melakukan  interaksi  sosial atau  menjalin  hubungan  baik dengan  orang  lain.  Bahkan keberhasilan  siswa  di  sekolah banyak  ditentukan  oleh kampuannya  mengelola  interaksi sosial.

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi stres akademik atau sekolah, menurut (Puspitasari, W. Gunawati, R., Hartati, S., & Listiara, A.) yaitu faktor internal dan faktor eksternal:

Faktor internal yang mengakibatkan stres sekolah

A. Pola piker

Individu yang berpikir tidak dapat mengendalikan situasi, cenderung mengalami stres lebih besar. Semakin besar kendali bahwa ia dapat melakukan sesuatu, semakin kecil kemungkinan stres yang akan dialami siswa.

B.  Kepribadian

Keyakinan

Penyebab internal selanjutnya yang turut menentukan tingkat stres siswa adalah keyakinan atau pemikiran terhadap diri. Keyakinan terhadap diri memainkan peranan penting dalam menginterpretasikan situasi-situasi di sekitar individu. Penilaian yang diyakini siswa dapat mengubah pola pikirnya terhadap suatu hal bahkan dalam jangka panjang dapat membawa stres secara psikologis.

Faktor eksternal yang mengakibatkan stres sekolah

Pelajaran lebih padat 

Kurikulum dalam sistem pendidikan standarnya semakin lebih tinggi. Akibatnya persaingan semakin ketat, waktu belajar bertambah, dan beban siswa semakin meningkat. Walaupun beberapa alasan tersebut penting bagi perkembangan pendidikan dalam negara, tetapi tidak dapat menutup mata bahwa hal tersebut menjadikan tingkat stres yang dihadapi siswa meningkat.

Tekanan untuk berprestasi tinggi 

Para siswa sangat ditekan untuk berprestasi dengan baik dalam ujian-ujian mereka. Tekanan ini terutama datang dari orangtua, keluarga, guru, tetangga, teman sebaya, dan diri sendiri.

Dorongan status sosial 

Pendidikan selalu menjadi simbol status sosial. Orang-orang dengan kualifikasi akademik tinggi akan dihormati masyarakat dan yang tidak berpendidikan tinggi akan dipandang rendah. Siswa yang berhasil secara akademik sangat disukai, dikenal, dan dipuji oleh masyarakat. Sebaliknya, siswa yang tidak berprestasi di sekolah disebut lambat, malas atau sulit. Mereka dianggap sebagai pembuat masalah, cenderung ditolak oleh guru, dimarahi orangtua, dan diabaikan teman-teman sebayanya.

Orangtua saling berlomba 

Pada kalangan orangtua yang lebih terdidik dan kaya informasi, persaingan untuk menghasilkan anakanak yang memiliki kemampuan dalam berbagai aspek juga lebih keras. Seiring dengan perkembangan pusatpusat pendidikan informal, berbagai macam program tambahan, kelas seni rupa, musik, balet, dan drama yang juga menimbulkan persaingan siswa terpandai, terpintar, dan serba bisa.

Jadi berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi stres akademik yaitu faktor internal yang meliputi pola pikir, kepribadian, dan keyakinan, sedangkan faktor eksternal yang terdiri dari tekanan untuk berprestasi tinggi, dorongan status sosial, pelajaran lebih padat, dan orangtua saling berlomba.

Dampak yang terjadi dari problem stres sekolah

Stres Belajar

Stress belajar adalah perasaan yang dihadapi oleh seseorang ketika ada tekanan-tekanan terhadapnya. Tekanan-tekanan yang dimaksudkan adalahberhubungan dengan belajar dan kegiatan di sekolah, misalnya saja tergangguwaktu PR, saat menjelang ujian, dan hal-hal yang berkaitan dengan belajar. Stes belajar ditunjukkan dengan indikator.

Upaya dalam mengatasi dampak problem stress sekolah yang dialami oleh peserta didik

Stress dalam belajar merupakan suatu respon psikologi, pikiran, fisik dan perilaku yang dapat dialami oleh seseorang karena ada beberapa penyebabnya. Stress dalam belajar adalah perasaan yang dihadapi oleh seseorang ketika ia mengalami suatu tekanan. Pada hakekatnya stress seklah tidak bisa dihilangkan sama sekali, namun dapat diturunkan intensitasnya. Sehingga berada pada batas-batas toleransi.Stress itu perlu untuk ditangani karena jika stress tidak ditangani dengan baik, sehingga nanti akan menyebabkan atau menjadi stress yang positif yang dimana menentang peserta diidk untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan dirinya sendiri dan kesjahteraan hidup dapat dipelihara.

PENUTUP

Simpulan 

Stress biasanya muncul atau terlihat padasituasi serta keadaan yang kompleks, dimana menurut suatu individu anak, dan muncul situasi-situasi yang tidak jelas. Jika dilihat dari dari konteks akademik, stress muncul ketika terlalu banyak tuntutan oleh pendidik yang tidak dapat dipahami dan dimengerti anak. Karena anak cenderung lebih suka melakukan apa yang diinginkannya tanpa memikirkan orang lain. sumber  stres  sekolah  berasal  dari berbagai  tuntutan  sekolah. Sekolah merupakan  sebuah  sistem  sosial (Social  System) dengan  struktur organiasi  yang  kompleks. 

Bahkan, Arend secara tegas mengatakan bahwa sekolah  dalam  banyak  hal  memiliki kesamaan  dengan organisasi-organiasasi  yang  ada  dalam masyarakat. Sebagai sebuah organisasi sosial yang kompleks, sekolah memiliki sejumlah norma,  nila, peraturan,  dan  tuntutan yang  harus  dipenuhi  oleh  para anggotanya,  termasuk  oleh  siswa. Dampak terjadinya problem stress sekola yaitu stress belajar, Copping Stres, dan motivasi belajar. Selain dampak problem stress maka ada upaya untuk menga Melaksanakan program pelatihan penanggulangan stress si dampak tadi yaitu Menciptakan iklim sekolah yang kondusif , Melaksanakan program pelatihan penanggulangan stress, Mengembangkan Resiliensi Peserta Didik, dan Seorang Pendidik Harus Mengetahui Psikologi Perkembangan Anak.

Saran

Penulis menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada banyak sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun mengenai pembahasan makalah di atas. 



DAFTAR PUSTAKA


Aliah, B.Purwakania Hasan. 2006. Psikologi Perkembangan Islami. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Awlawi. Addahri Hafidz. 2018.“STRESS SEKOLAH PESERTA DIDIK PADA FASE PERKEMBANGAN DASAR”. Jurnal Syi’ar. Vol 18, No. 1. Aceh Tengah: STAIN GAJAH PUTIH TAKENGEON, hlm.110. 

Barseli, Mufadhal. 2017. “Konsep Stres Akademik Siswa”. Jurnal Konseling dan Pendidikan. Vol 5, No. 3. Padang: Universitas Putra Indonesia “YPTK”, hlm.145.

Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 

Elizabeth, B.Hurlock. 1999. PsikologiPerkembangan Suatu PendekatanSepanjag Rentang Kehidupan. Jakarat:  Erlangga.

H. Uyu wahyudin dan Mubiar Agustin. 2012. PenilaianPerkembangan Anak UsiaDini. Bandung: Reflika Adiatama.

Jeanne, Ellis Ormrod. 2009. Edisi Keenam Psikologi Pendidikan-Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang. Jakarta: Erlangga.

Muhaimin. 2012. Paradigma Pendidikan Islam,Upaya Mengaktifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung;PT Remaja Rosdakarya.




Komentar

Postingan Populer